Latest

Powered by Blogger.

Tribute to Kiki, Deddy, Shofwan: Perasaan yang Tidak Bisa Hilang

Monday, August 27, 2018



“Aku tidak takut pada luka dan sakit.”
First Rabbit-JKT48

Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis untuk tiga kontributor lobimesen.com di atas. Hanya saja saya menyelesaikan tulisan Gara-gara Nembak Perempuan terlebih dahulu. Di luar perkiraan, saya baru bisa mem-publish tulisan rada aneh itu malam takbiran kemarin. Padahal saya mulai menuliskannya bulan Juni. Mungkin sekarang momennya gak pas lagi, namun saya ingin tetap menulis satu artikel untuk mereka. Sebab ketiganya punya cerita masing-masing.

Pertama saya mendengar berita duka ayahanda Deddy Suryawan meninggal. Ini saya rada pekewuh karena gak sempat layat. Hanya melihat status WA Deddy yang dikunjungi teman-teman komunitas serta satu angkatannya. April 2018, waktu itu lagi repot-repotnya persiapan Musyawarah Nasional Paguyuban Alumni Psikologi (PAPSI) UNS. Kiki juga sempat mengajak layat tapi jadwal longgarnya gak ketemu. Sori Ded kakak-kakak tingkatmu sudah gak selonggar pas masih kuliah.

Berita kedua dari Shofwan yang sampai sekarang masih ada bisnis sama saya. Maksudnya dia minta tolong diuruskan proses pengumpulan berkas wisuda, ambil ijazah, dan transkrip akademik. Ayahandanya meninggal berjarak satu minggu dari ayahanda Deddy Suryawan. Shofwan kini tengah mengikuti semacam pendidikan leadership and management di Rumah Perubahan milik Rhenald Kasali. Maaf ya Shof gak bisa melayat langsung ke Makassar.

Berita ketiga, ayahanda Kiki Fajri meninggal akhir bulan Juli. Saya bersama dua orang teman melayat saat jam istirahat. Rumah Kiki masih bisa dibilang Solo walaupun secara de jure masuk wilayah Sukoharjo. Kiki tampak terpukul dan masih lemas waktu kami datang. Kelihatan sekali ia berusaha kuat dengan apa yang baru saja terjadi. Jika tidak terbatas waktu dan kondisi mungkin saya tetap di sana sampai sore hari saat jenazah dikebumikan.

Ya kehilangan seseorang yang sangat berarti memang tidak pernah mudah.

Seseorang yang bertahun-tahun membersamai, berbuat banyak hal, dan sangat peduli kepada kita. Selama berpuluh-puluh tahun bersama dalam sekejap beliau meninggalkan kita. Tidak lebih dari sedetik segalanya berubah. Jika diri tidak siap dengan kehilangan, rasa kagetnya bisa jadi luar biasa. Orang yang sudah merasa siap saja kagetnya tetap mengguncang jiwa. Syok pasti ada dan mungkin membuat hari-hari kita jadi lebih berat.

Buat yang belum merasakannya mungkin masih berpikir ‘ah masih nanti’.

Tapi malaikat kematian bukan toko daring yang bisa dinego aje say. Ia mengajak pulang siapa saja yang dikehendaki Tuhan untuk kembali. Manusia hidup lantaran ruh yang ditiupkan Tuhan, dan mati ketika ruh itu diminta kembali. Ilmu kebal apa pun tidak akan bisa menolaknya. Bisa saja kita berpikir dan berimajinasi seperti itu, namun apakah kita bisa melakukannya? Sementara selama manusia hidup belum pernah ada yang berhasil mencegah kematian.

Beruntungnya kita memiliki kepercayaan pada negeri akhirat. Negeri di mana manusia tinggal abadi setelah menempuh kehidupan fana di dunia ini. Konsep alam baka yang diturunkan melalui ilmu agama dari generasi ke generasi. Kita percaya orang yang meninggalkan dunia ini tidak sirna, lenyap, hancur, hilang begitu saja. Mereka hanya berpindah dari alam materi ke alam gaib. Lantaran kita masih hidup di alam materi jadi terhalang untuk berinteraksi dengan mereka.

Ini konsep yang tidak bisa dilogika.

Logikanya jika kita tidak melihat sesuatu berarti sesuatu itu tidak ada. Sementara kenyataannya, kita tidak melihat sesuatu karena ada keterbatasan atau ada penghalang. Seperti perumpamaan yang ditulis Stephen Hawking (2010) dalam bukunya The Grand Design tentang meja di dalam ruangan:

Bagaimana cara saya tahu sebuah meja di dalam ruangan masih ada jika saya keluar dan tidak lagi melihatnya? Bagaimana mengatakan benda-benda yang tidak bisa kita lihat memang ada? Bisa saja meja itu hilang ketika saya keluar dan saat saya masuk muncul kembali. Kemudian bagaimana bila sesuatu terjadi waktu saya keluar, langit-langit ruangan runtuh misalnya? Bagaimana menjelaskan ketika saya masuk meja dalam keadaan patah di bawah puing langit-langit? Model yang menganggap meja selalu ada jauh lebih sesuai dengan pengamatan (observasi).

Pernyataan menganggap meja selalu ada adalah kesimpulan Stephen Hawking. Bagaimana kita bersikap terhadap keberadaan yang tidak mampu dilihat mata telanjang.

Menurut Al Qur’an kita pernah berinteraksi dengan Tuhan sebelum lahir ke dunia fana ini. Surat Al A’raaf ayat 172 menceritakan:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (keturunan Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Masalahnya adalah memori otak kita kemudian merekam kejadian-kejadian dari alam materi. Rekaman itu menjadi distorsi untuk memahami fitrah yang tertanam dalam ruh. Fitrah bahwa kita pernah berinteraksi dan bersaksi kepada-Nya. Kejadian gaib yang hanya bisa kita percayai. Tidak bisa dilihat, tidak bisa di-recall, juga tidak sanggup diimajinasikan.

Agak berat ya tulisan ini?

Memang hati saya masih mempertanyakan beberapa hal tentang Tuhan. Mengapa saya lahir, kapan saya mati, apa yang sebaiknya saya lakukan untuk mengisi hidup, dan sebagainya. Tapi, mengetahui orang tua teman ada yang meninggal, saya seperti diingatkan kembali. Ibu dan Simbah juga akan menyusul para orang tua itu ke alam abadi. Itu satu konsep yang belum benar-benar meresap di hati saya. Keinginan bersama mereka dalam keadaan apa pun masih kuat menancap.

Saya yang masih bersama orang tua saja merasakan kerinduan, apalagi Kiki, Deddy, dan Shofwan.

Mereka juga pasti merasakannya dalam tingkatan yang berbeda. Perasaan seorang anak kepada orang tua yang tidak bisa hilang. Sebab bagaimana pun kita ini anak meskipun sudah usia dewasa. Orang tua kita pun anak meskipun telah memiliki anak dari pernikahannya. Kita tidak bisa membuang perasaan itu begitu saja. Berpura-pura dewasa tanpa memiliki sifat anak-anak, bahkan pura-pura kuat tidak merindu sosok orang tua sebagai pelindung dan penopang kita.

Ada orang mengartikan kebersamaan itu berarti berada di suatu tempat, waktu, dan kondisi yang sama. Saat dia yang biasa membersamai meninggal, siapa pun itu, timbul niat hati untuk menyusul. Itu kurang bijak. Jika kita percaya bahwa segala yang ada tidak harus selalu kita lihat, dengar, atau pun sentuh,  kebersamaan menjadi tidak terbatas. Seperti kesimpulan Stephen Hawking menganggap meja selalu ada, mereka yang meninggal juga selalu ada.

Memang mereka tidak mampu kita lihat dengan mata, didengar dengan telinga. Tapi perasaan ingin bersama dengan orang tua tidak butuh ketajaman indera. Badan boleh terpisah tapi jiwa dan ruh masihlah berkait. Kita masih terhubung dengan bapak/ibu dengan ikatan perasaan anak kepada orang tua. Hal semacam ini tidak bisa dijelaskan dengan teori apa pun. Dipikir sampai kepala panas juga logika tidak akan mencapai.

Percaya datang dari dalam nurani, bukan akal. Rasa percaya tidak selalu bisa dijelaskan namun itu mengisi setiap waktu kita. Jika rasa percaya menurun, akal menuntut penjelasan. Maka seperti tulisan saya Tribute to Burhan, tulisan ini sedikit penjelasan logis bahwa mereka yang meninggal tidak benar-benar pergi. Jelas kurang lengkap karena soalan filsafat semacam ini tentu butuh penjabaran mendalam. Saya hanya ingin mengucapkan belasungkawa yang tidak sempat saya sampaikan secara langsung.

Baik Kiki, Deddy, atau pun Shofwan tentu memiliki perasaan tersendiri terhadap pengalamannya. Saya pun memiliki perasaan sendiri saat tahu ada teman yang berpisah secara badan dengan orang tuanya. Rasa kehilangan adalah energi yang besar. Jika dimanfaatkan dengan benar akan memacu kita jadi lebih dewasa. Seperti lirik lagu First Rabbit dari JKT48: setiap terluka jadi makin dewasa, air mata mengalir dada terasa sakit, meski begitu ku tetap takkan menyerah.

Sekretariat SPMB UNS, 27 Agustus 2018


Ilustrasi: https://upliftconnect.com/wp-content/uploads/2016/03/LifeDeathFeature.png
Daftar Pustaka:
Al Qur’an
Hawking, Stephen.,Mlodinov, Leonard. 2010. The Grand Design. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

No comments:

Post a Comment