Latest

Powered by Blogger.

Pengalaman Interview dengan Orang Indigo

Sunday, September 16, 2018
Sumber Gambar


Siang itu bisa dibilang sepi pelamar. Namun, bukan berarti hari itu saya hanya makan gaji buta. Ada agenda ke kantor imigrasi untuk mengurus dokumen keimigrasian karena kantor tempat saya bekerja baru saja mendatangkan tenaga ahli dari China.

Ketika baru mengurus surat ijin dinas luar, ada informasi dari pos security, bahwa ada satu pelamar. Saya menginstruksikan kepada security yang sedang bertugas di pos depan untuk menerima pelamar dan memberikan form aplikasi pelamar. Pikir saya, tak apalah menyelakan waktu sebentar untuk interview sambil menunggu jam istirahat shift pagi.

Setelah saya sudah mendapatkan tanda tangan untuk keperluan dinas luar, saya langsung menuju kantin. Kebetulan saya lebih sering melakukan interview di kantin, mengingat ruang rekruitmen yang biasa digunakan interview sudah dialih fungsikan sebagai ruang dokumen dan arsip.

Seperti biasa, sambil menyiapkan form interview dan melihat-lihat CV pelamar. Untuk mencairkan suasana, biasanya saya mulai bertanya-tanya kepada pelamar terlebih dahulu. Seperti tempat tinggalnya mana, dari rumah jam berapa, kemudian dapat informasi dari mana kalo di tempat kerja saat ini ada lowongan pekerjaan.

Kemudian saya mulai mempersilahkan pelamar untuk memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Dan dari perkenalan tersebut, ada satu hal yang membuat saya, langsung meletakan pulpen saya. kemudian ingin tahu lebih dalam ketika ia langsung jujur kepada saya, “Maaf Pak, sebenarnya saya lulusan keperawatan, namun karena ada suatu hal, saya memutuskan untuk tidak menggunakan keahlian sesuai akademik saya, dan memilih menjadi karyawan perusahaan”

Waktu saya lihat pengalaman kerja di CV-nya. Bahwa benar ia selama ini bekerja di industry yang sama dengan perusahaan tempat saya bekerja. Dan saya justru mulai mendalami lagi kenapa ia memutuskan untuk tidak bekerja di rumah sakit atau klinik mengingat ia adalah seorang lulusan keperawatan.

Sebelum saya mulai menggali lebih lanjut tentang keputusannya menyimpan ijazah keperawatannya, alih-alih menggunakannya untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang akademiknya. Tiba-tiba terdengar suara bel, tanda istirahat untuk shift pagi. Karena kantin bisa dipastikan akan penuh sesak dengan karyawan shift pagi yang menggunakannya untuk istirahat dan makan siang. Saya memutuskan untuk pindah lokasi interview, yaitu di sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk menerima tamu di dekat resepsionis.

Di tempat biasa menerima tamu itulah, saya justru keluar dari SOP dalam interview. Karena saya juga masuk shift pagi, artinya sebenarnya sudah masuk jam istirahat saya. Waktu istirahat saya gunakan untuk mngobrol hal santai dengan pelamar.

Ia kemudian mulai bercerita tentang sebuah pengalaman ketika ia masih kuliah. Yaitu ketika sedang praktek dan untuk kali pertama berhadapan langsung mayat, ia merasa selalu diikuti dan bisa dibilang sampai mengganggu kehidupannya. Sambil mengerutkan kening, saya seperti harus meyakinkan lagi tentang apa yang ia ucapkan.

“Saya bisa merasaka kehadiran sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain” Mendengar ucapan itu, saya seperti sedang bertemu dengan orang yang cocok untuk diajak diskusi. Jujur saya adalah orang yang selalu menganggap bahwa ketakutan-ketakutan kita tentang sesuatu yang hal yang tak kasat mata, adalah produk dari pikiran kita sendiri. Karena segala ketakutan yang muncul dalam pikiran kita itu bersumber dari pengalaman-pengalaman kita sendiri, apalagi dari kecil pemahanan tentang makhluk halus hanya bersumber dari cerita orang lain, dikuatkan lagi dengan film-film horror Indonesia. Missal saya menjadi sangat takut untuk ke kamar mandi seorang diri, karena saya baru saja menonton film keramat. Iya, film keramat menurut saya, adalah film horror terbaik. Daripada film horror lainnya yang lebih menonjolkan unsur sex ketimbang horornya itu sendiri.

Dalam sesi berbalut seleksi interview tersebut, ia bercerita tentang “kemampuan” yang ia miliki. Dan tentu hal itu tidak saya masukan dalam hal keahlian atau kemampuan yang dimiliki dalam form interview.

Menurutnya, kemampuan yang ia miliki karena adanya garis keturunan dari sang Kakek, yang menurut penuturannya juga memiliki kemampuan seperti dirinya. Pada awalnya saya sulit untuk mempercayai adanya hal tersebut. Namun, bukan berarti juga saya tidak percaya dengan hal tersebut. Karena jika kita dilihat, budaya juga berpengaruh dalam mencerna hal-hal yang berbau mistis tersebut. Sedangkan budaya itu sendiri juga merupakan produk dari akal pikiran manusia.

Sudah lama saya berusaha untuk memahami hal tersebut, namun dalam pertemuan saya dengan seorang pelamar yang menurut pengakuannya, ia sudah dari kecil mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Iya, indigo! Suatu kemampuan seseorang yang tidak dimiliki oleh semua orang, dimana ia mampu merasakan maupun melihat sesuatu yang tak kasat mata.

Selama kurang lebih setengah jam berdiskusi dengan dia. Saya benar-benar mengesampingkan form interview di hadapan saya. Dan malah melebar kemana-mana membahas tentang "kemampuannya". Dan saya juga turut menceritakan tentang ketakutan-ketakutan saya, dan mencoba untuk tidak keras kepala mempertahankan argumen saya yang saya yakini selama ini.

Dan selama kurang lebih 30 menit itulah, saya seperti disadarkan tentang adanya suatu batasan. Bahwa setiap orang memiliki pengalaman mistis sendiri-sendiri. Tidak ada gunanya juga memperdebatan tentang suatu yang belum pernah kita alami, sedang bagi orang lain mungkin sudah menjadi hal yang terlalu sering ia alami. Dan untuk pengalaman mistis yang pernah saya alami, mungkin akan saya tuliskan dalam tulisan yang berbeda. Kalo sempat, tapi!

Kembali lagi tentang batasan. Obrolan saya dengan seorang pelamar yang mengaku indigo tersebut,  membuat saya menyadari akan keterbatasan pada diri saya. Saya seperti halnya orang yang memiliki mata plus atau rabun jauh. Artinya, saya memiliki batasan bahwa pada jarak tertentu ada obyek yang hanya bisa saya lihat samar-samar, bahkan tidak mampu saya lihat sama sekali. Dan itu artinya, ada sesuatu yang tidak bisa saya jangkau.

Terima kasih untuk waktu dan pengalamannya, dan terima kasih telah mengingatkan bahwa memperdebatkan sesuatu yang tidak bisa kita jangkau adalah salah satu bentuk keegoisan dalam cara berpikir.

No comments:

Post a Comment