Latest

Powered by Blogger.

Catatan Luka, Belajar dari Internet

Monday, October 15, 2018

Tepat pukul 05.15 seorang laki-laki melaju kencang di atas motor matic kesayangannya menuju kantor tempatnya bekerja. Tapi ada yang aneh dengan laki-laki itu.

Tak seperti biasa. Lelaki yang selalu rapi dengan kemeja, celana bahan, serta rambut kelimis, serta bersepatu semi formal ketika akan berangkat ke kantor. Namun pagi itu, ia hanya menggunakan sandal jepit merk swallow. Bayangkan berangkat kerja pakai sandal jepit swallow? Masih mending kalau ia memakai sandal jepit slop atau sandal kulit.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan pagi itu? Lupa memakai sepatu kah? Atau sepatunya tertinggal di kantor sebelumnya? Ternyata bukan! Ada sesuatu yang terjadi pada laki-laki itu.

Kakinya melepuh seperti luka bakar, lebih mirip luka seperti habis kecelakaan. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa lelaki itu baru saja mengalami kecelakaan.
Sepertinya lukanya sudah parah, bahkan sudah sampai infeksi. Kakinya juga terlihat membengkak. Orang yang melihat luka itu, pasti akan merasa ngilu membayangkan betapa sakitnya ketika harus menahan rasa sakit itu.

***
Cuplikan di atas, benar-benar saya alami. Iya, lelaki itu adalah saya sendiri. Sudah beberapa hari ini saya ke kantor hanya dengan sandal jepit swallow. Sebuah merk sandal yang menurut saya sudah menjadi legend di dunia sandal jepit.

Kaki saya mengalami iritasi. Bahkan bisa dibilang sudah parah. Sudah sampai infeksi. Selain bernanah, saya juga harus menahan rasa nyeri dikaki saya. Bahkan dokter yang memeriksa saya pun sampai heran, "Luka sudah sampai kaya gini, sampeyan kok masih menteles gini, apa nggak sakit to?" Tanya dokter yang memeriksa saya. "Ndak sakit gimana sih Bu, sakit biyangetz inih" jawab saya. "Iya, biasanya kalo uda sampai kaya gini, uda pada demam soale lukane sudah sampai infeksi gini" kemudian dokter yang memeriksa saya memberikan resep obat untuk 3 hari. "Ini obatnya untuk 3 hari, besok kembali lagi kalau obatnya sudah habis" kata dokter setelah memeriksa saya.

Sebenarnya semua berawal dari hal yang bisa dikatakan sepele. Awalnya saya hanya merasakan gatal di sela-sela jari kaki saya. Saya memang memiliki alergi terhadap beberapa merk detergen yang dijual di pasaran. Jadi kalau habis nyuci pakai deterjen tersebut, bisa dipastikan keesok harinya iritasi, seperti kutu air.

Kutu air sebenernya gampang obatnya, cukup direndam dengan air garam, biasanya langsung kering tanpa iritasi. Namun, gobloknya saya kok ya tidak melakukan apa yang biasa saya lakukan. Setelah saya melakukan browsing. Saya menemukan metode penyembuhan kutu air dengan bawang putih. Setelah saya baca, karena bawang putih mudah saya dapatkan dan mudah dalam penerapannya. Saya melakukan hal itu. Yang saya rasakan tentu panas. Tapi saya berusaha menahannya. "Namanya juga mau sembuh pasti ada rasa sakit" pikir saya kala itu.

Setelah bangun pagi saya merasakan kaki saya terasa nyeri, bahkan untuk berjalan saja susah. Seperti luka bakar, berair, dan tentu agak panas.

Di saat seperti itu saya sudah merasakan sesuatu yang buruk bakal menimpa saya. Sorenya segera saya periksakan ke dokter faskes pertama saya. Saat saya bawa ke dokter rasanya nyeri sekali. Kemudian sudah ber nanah. Rasa takut pasti ada. Bahkan pikiran-pikiran negatif sedikit demi sedikit sudah merasuki pikiran. Saya takut terjadi apa-apa. Apalagi saya juga masih terus menahan rasa nyeri di kaki saya.
Sedikit lega ketika dokter yang memeriksa saya berkata "Tidak apa-apa nanti di obati juga sembuh, tiga hari lagi kembali lagi"

***
Ketika saya menulis catatan ini, saya masih sedikit menahan rasa nyeri di kaki. Meski dari dokter memberikan saya ijin untuk istirahat selama dua hari. Namun saya tetap berangkat kerja. Bukanya apa-apa, badan saya tidak apa-apa, hanya pergerakan saya saja yang sangat terbatas. Apalagi, di rumah seorang diri, hanya membuat pikiran saya hanya fokus pada luka. Di kantor pikiran saya terbagi-bagi, tentu dengan begitu saya bisa sedikit mengalihkan rasa sakit dengan kesibukan. Selain itu, tentu saya tidak ingin merepotkan orang lain.

Di samping itu, saya juga browsing di internet mengenai dampak bawang putih bagi kulit. Dan fakta baru membuka mata saya. Bahwa benar bahwa bawang putih juga mengandung antiseptic. Namun, jika tidak dilakukan dengan benar justru mampu membuat kulit menjadi iritasi dan seperti luka bakar. Hal itu disebabkan karena ada turunan zat yang terkandung dalam bawang putih.

Sebuah risiko yang harus saya terima ketika saya belajar dari internet tanpa mencoba mencari referensi lain. Apa yang saya alami, ternyata pernah terjadi juga oleh orang lain. Hal itu saya ketahui dari sebuah artikel yang saya baca. Dan karena kesalahan saya sendiri saya harus menahan sakit, serta menjalani terapi pengobatan yang tentu jauh lebih lama.

***
Berkembangnya teknologi informasi, memberikan banyak ruang kepada kita untuk memperoleh informasi yang seluas-luasnya. Semua informasi yang kita cari, hampir semua ada di internet. Namun, tidak semua informasi di internet adalah sebuah kebenaran. Perlu ada yang namanya filter dalam mencerna informasi di Internet. Kalau tidak memiliki filter, bukan tidak mungkin apa yang saya alami, juga akan terjadi pada kalian.

Ketika menemukan sebuah informasi, tentu tidak cukup sampai disitu. Perlu ada referensi lain sebagai pembanding. Apalagi internet bukan lagi sebagai sumber informasi, tapi juga sumber berita palsu atau lebih sering kuta kenal sebagai hoax.
Saya jadi teringat nasehat seseorang, "Balajar Agama itu jangan cuma di internet, silakan belajar pada ahlinya" pada mulanya saya tidak setuju dengan nasehat tersebut.  Karena internet memberikan informasi lebih dari yang kita butuhkan. Masak belajar agama di internet tidak boleh? 

Namun, pengalaman memberikan pelajaran yang berharga. Belajar masalah pengobatan di Internet, risikonya ya seperti yang saya alami, namun kalo belajar agama dari internet? Risikonya? Silakan diisi sendiri, hehehe

Sumber gambar

No comments:

Post a Comment