Latest

Diberdayakan oleh Blogger.

Curhat Milenial Galau Karena Indonesia

Kamis, 28 Februari 2019
Saya milenial. Masih muda. Masih banyak teman-teman sepantaran yang belum menikah. Bahkan mereka yang cewek-cewek, juga lumayan yang belum menikah.  Tapi yang sudah menikah juga sudah banyak. Umumnya sekarang sudah memiliki satu anak. Beberapa saja yang memiliki anak lebih dari satu. Biasanya sedulur kami yang perempuan.

Mungkin saya salah menggunakan tolok ukur menikah-belum menikah untuk merepresentasikan usia seseorang. 

Membahas usia dan pernikahan cukup sensitif di sini. Di kalangan milenial. Apalagi di bahas di awal tulisan ini.
Walau masih kalah sensitif kalau misalnya bahas berat badan dengan perempuan. Hehe

Tapi beneran saya masih muda. Hari ini tepat 28 tahun menurut penanggalan masehi. Sangat masuk kategori milenial. Saya juga masih idealis. Memegang nilai-nilai positif yang saya yakini dengan erat-erat. Saya masih optimis kepada peradaban. Khususnya Indonesia. Tanah air kita dilahirkan dan ditugaskan.

Tapi, sebagai milenial. Seperti banyak milenial lainnya yang perasaannya dan pikirannya sama dengan saya. Kami galau. Saat ini. Posisi milenial terhadap Indonesia.

Kami masih nol. Belum memiliki bekal apa-apa. Padahal sepuluh-dua puluh tahun ke depan milenial adalah pemangku peradaban. Sedulur-sedulur milenial nantinya sudah menempati posisi-posisi matang dalam kehidupannya. Ada yang jadi direktur perusahaan. Pejabat pemerintahan. Ulama. Altet. Dokter. Guru. Petani. Pelaut. Tentara. Profesor. Peneliti.

Milenial nantinya yang akan menjawab tantangan jaman. Yang pasti berbeda dengan jaman yang saat ini berlangsung. Ke manakah arahnya. Mampukah mengendarai ke arah yang lebih baik. Atau justru memperburuk jaman.

Kalau boleh berharap secara pribadi saya bisa melihat Indonesia kembali berjaya. Seperti kerajaan Majapahit yang dulu pernah saya baca ketika sekolah. Menjadi bangsa pemangku dunia.

Milenial hari ini. Ibarat tahapan perkembangan manusia. Adalah seorang remaja. Sudah tidak mau lagi kalau dianggap anak kecil. Tapi juga tidak bisa dikatakan bahwa dirinya sudah dewasa.

Milenial resah mencari jati diri bangsa.  Siapa dirinya sebenarnya. Akan seperti apa dirinya kelak. Di mana posisinya.

Saya melihat banyak mata rantai Indonesia yang hilang. Sulit saya identifikasikan kenapa Indonesia hari ini seperti ini. Perjalanan sejarahnya kabur dari pengetahuan saya. Sehingga memicu banyak pertanyaan-pertanyaan liar yang terus mendorong agar saya mencari tahu jawabannya.

Pertanyaan-pertanyaan misalnya: 

Kenapa Indonesia memilih republik dan negara kesatuan. Apa pertimbangannya. Dari mana idenya. Belajar dari manakah?

Karena sepengetahuan saya jaman dahulu Indonesia itu terdiri dari kerajaan-kerajaan. Kenapa tidak meneruskan itu. Kenapa tidak misalnya menjadi persemakmuran karena kondisi awalnya yang seperti itu?

Pikiran saya berkembang. Kalau awalnya kerajaan-kerajaan kenapa setelah merdeka menjadi Indonesia. Kerajaan-kerajaan itu kenapa mau saja menyerahkan kekuasan daerahnya kepada propinsi-propinsi atau kabupaten-kabupaten kepada negara jabang bayi Indonesia? Kok rela begitu saja para raja/sultan itu memindahtangankan kekuasaannya.

Kenapa juga sampai sekarang kita terus-menerus mempertahankan negara kesatuan yang republik ini? Saya kok melihatnya partai-partai politik itu lubuk jiwanya masih jiwa kerajaan. Sebut misalnya partai kerajaan cikeas. Atau partai kerajaan putri Bung Karno.

Ini hanya sedikit pertanyaan liar di kepala saya. Masih banyak lagi. Yang jawabannya belum saya temukan dengan mantab.

Saya tidak memiliki masalah dengan sistem apa pun. Tidak ingin juga sistem seperti yang bagaimana seharusnya. Toh sistem-sistem itu adalah produk ciptaan manusia. Hanya saja. Keadaan saat ini seperti yang saya pernah baca dari mas guru yang dia bilang fotokopi sanadnya nggak jelas adalah seperti penelitian lima ekor monyet dalam sebuah kandang.

Berikut saya kutip:

"Ada sebuah penelitian tentang monyet. Dalam sebuah kandang monyet terdapat 5 ekor monyet, kemudian ada sebuah tangga yang di puncak tangga tersebut terdapat pisang. Setiap ada satu ekor monyet yang menaiki tangga untuk mengambil pisang, monyet yang lain akan disemprot air es yang dingin. Setiap ada satu ekor monyet yang menaiki tangga, monyet-monyet lain di dalam kandang akan disemprot air es dingin. Semakin hari, berdasarkan pengalaman itu, yang terjadi kemudian adalah setiap ada satu monyet yang mencoba menaiki tangga, ia akan ditarik oleh monyet lainnya, kemudian dipukuli. Monyet-monyet itu sadar bahwa jika ada yang menaiki tangga, maka akibatnya adalah monyet yang lainnya yang menerima hukuman disemprot air es.

Kemudian, secara bergiliran, satu per satu monyet di dalam kandang dikeluarkan dan digantikan oleh monyet yang baru. Monyet yang baru masuk tidak mengetahui aturan main di dalam kandang, dia bingung ketika dia menaiki tangga kenapa ditarik oleh monyet lainnya kemudian dipukuli. Hingga akhirnya tertanam dalam alam bawah sadarnya bahwa menaiki tangga itu adalah sebuah pelanggaran. Hukum rimba sudah berlaku, tanpa ada hukuman disemprot dengan air dingin, monyet-monyet itu sudah menyadari bahwa menaiki tangga untuk mengambil pisang adalah sebuah pelanggaran.

Hingga akhirnya lima monyet generasi awal yang merasakan hukuman semprot air dingin sudah tergantikan dengan monyet-monyet yang baru. Tetapi, karena hukum sudah berjalan dengan baik, monyet-monyet yang baru itu sudah memiliki kesadaran untuk tidak berani menaiki tangga untuk mengambil pisang. Mereka tidak mengetahui ada sejarah hukuman semprot air dingin, yang mereka ketahui adalah mereka tidak boleh menaiki tangga apalagi sampai mengambil pisang di puncak tangga itu.

Dari penelitian tentang monyet itu, kita bisa belajar dengan apa yang terjadi di Indonesia hari ini. Kita tidak memiliki referensi yang jelas sehingga kita melakukan sesuatu yang kita tidak mengetahui sebab-musababnya. Seperti monyet yang disiram air es tadi, ketika generasi monyet berganti, tanpa mereka mengetahui mengapa yang naik tangga dipukuli. Sementara ada sejarah yang terjadi bahwa monyet-monyet yang tidak menaiki tangga dihukum dengan cara disiram air es. 

Seperti itu fakta kita hari ini, kita tidak tahu sejarah dan asal-usul apa yang terjadi di masa lampau, kita hanya taqlid terhadap orang tua kita. Ada banyak contoh bagaimana kita hanya meneruskan apa yang dilakukan oleh orang tua kita tanpa kita mau mencari sejarahnya."

Maka saya harus mulai membaca lagi sejarah. Mungkin saya lupa. Atau dulu kurang membaca. Atau memang banyak sejarah yang tidak dituliskan. Tidak akurat. Dibuat-buat karena kepentingan penguasa saat itu.

Bertanya kepada sesepuh-sesepuh bangsa. Yang wara'. Yang nglothok dengan kehidupan. Sudah tidak lagi bernafsu memenuhi keinginan materi. Yang belum menjelaskan keadaan yang pernah dia lihat sebenar-benarnya.

Terus mencari referensi. Belajar. Minimal menuju arah yang benar. Agar tidak menjadi bangsa yang terpuruk. Merusak. Dan kerdil. Tetapi kembali menjadi bangsa yang mampu memangku dunia. Bukan menguasai. Tapi memimpin.

Menjadi generasi yang tidak harus benar-benar baru. Juga tidak harus mendobrak. Mungkin pembaharu. Cukup memperbaiki yang salah. Melestarikan dan merawat kebudayaan yang sudah luhur.

Kalau toh kami nanti gagal. Tidak bermanfaat sama sekali. Semoga kami tidak menambah kerusakan. Minimal bisa sedikit memberikan urun ke arah kebaikan dan yang benar.

Kalau pun jaman tetap lebih berkuasa membawa bangsa menuju ke arah kekacauan dan penghancuran. Kami dengan senang hati siap mengikuti, misalnya "Workshop Indonesia Pasca Negara". (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar