Latest

Diberdayakan oleh Blogger.

Terluka atau Recharged.

Sabtu, 11 Mei 2019


Ada berbagai macam perpisahan di dunia ini. Perpisahan karena pindah tempat, perpisahan karena naik kelas, perpisahan karena pertengkaran, perpisahan karena kematian, dan sebagainya. Tidak ada orang menulis ‘perpisahan’ di kolom hobi saat mengisi biodata. Tanpa direncanakan perpisahan pasti akan terjadi. Paling dekat yakni perpisahan dengan umur. Setiap hari kita menghabiskan durasi umur yang tidak bisa diulang atau ditarik kembali.

Proses menghabiskan umur menjadi ingatan abadi.

Beberapa momen tercipta dari waktu kita masih ngompol hingga bisa pegang motor. Tidak semua bisa kita ingat (setidaknya secara sadar). Namun kita tahu momen-momen itu ada. Lengkap dengan perasaan yang menyertainya. Apa yang kita rasakan ketika dikasih mainan baru, lamaran kita diterima oleh orang tua pacar. Atau perasaan ketika dibentak orang tua, istri minta cerai, anak putus sekolah dan sebagainya. Apakah kita benar-benar sanggup merasakan pengalaman itu sepenuhnya?

Beberapa dari kita bisa.

Saya termasuk yang tidak. Sebab saya sering keliru mengenali perasaan sendiri. Baru akhir-akhir ini saya feel in dengan apa yang terjadi. Mampu membaca isi hati ketika menghadapi satu peristiwa. Ternyata perasaan begitu rumit dan dinamis. Saya tidak hanya merasa senang ketika berkumpul dengan teman. Ada haru, rindu, minder, kadang sedih teringat masa lalu, dan sebagainya. Pun saya tidak sedih saja ketika tahu Bapak meninggal, atau menerima undangan pernikahan Farida dan Nacita.

Satu peristiwa memunculkan beragam perasaan.

Beberapa teman dekat baru-baru ini melangsungkan pernikahan. Maret lalu dua sahabat saya satu kampus. Satu di Tangerang, satu di Sala, tanggal yang sama. Saya menghadiri yang di Sala, meskipun feeling guilty juga gak datang yang satunya. Keduanya adalah sahabat yang tahu saat saya berada di titik terlemah. Sayang kami sudah jarang bertemu karena berbeda wilayah aktif. Jalani dunia masing-masing setelah lolos dari status mahasiswa.

Saya haru mereka menemukan pasangan hidup. Sedikit perjalanan mereka saya tahu. Waktu-waktu sulit, berdamai dengan situasi, tegar saat hidup memberi takdir menyakitkan. Mereka ada ketika saya butuh mengeluarkan ganjalan perasaan. I know they’d try to not judge. Mencoba mengerti yang saya rasakan. Kesampingkan keadaan saya yang mengecewakan untuk ukuran lelaki dewasa. Karena itu keduanya memiliki tempat spesial di hati saya.

Baru saja seorang teman yang sudah seperti saudari pun menikah. Saya kenal sejak dia masih SMP. Waktu saya kuliah kadang main ke rumah atau sekolahnya. Dia selalu menjaga diri untuk jadi orang baik. Kedewasaannya sudah terlihat bahkan sejak remaja. Saya dekat dengan kakaknya pula. Kami bertiga sama-sama suka sesuatu yang berbeda. Dua tahun lalu Sang Kakak telah menikah. Mereka pun sangat istimewa karena sudah seperti saudara dekat.

Terakhir seorang sahabat yang pernah bersaing dengan saya mendapatkan hati seorang wanita –jangan tanya siapa yang menang. DI pernikahannya tiga tahun lalu, saya tidak bisa sedikit pun memasang wajah gembira. Bukan karena tidak gembira, namun saya tidak mampu membaca apa yang ada di dalam hati. Teman SMA saya rasakan sudah seperti keluarga. Ketika mereka naik jenjang berumahtangga saya kehilangan. Harus mengucapkan perpisahan dengan kumpul bareng, ketawa bareng, gila-gilaan bareng.

Mereka move up.

Saya masih ingin bermain-main. Santai menjalani dan menikmati hidup. Tidak ada tujuan, tidak ada hasrat meraih sesuatu. Melihat itu, salah satu teman SMA pernah mengingatkan dengan nada setengah jengkel, agar saya ‘keluar rumah’. Apa yang saya jelaskan ia tidak mau menerima. Sepertinya dia so desperately ingin saya maju. Bukan menyerah, bukan merenung terus-terusan. Nasihatnya membuat saya kesal, sama seperti keluarga yang saya ceritakan di Farida 5.

Akhir-akhir ini saya menyadari siapa saja yang membuat hati tergerak, adalah yang punya tarikan emosional dengan kita. Semakin kuat tarikan emosi semakin kuat pula hati tergerak. Dan hati tergerak bisa dengan terluka atau recharged. Ketika keluarga mengarahkan dan menasihati, saya tergerak dengan perasaan terluka. Beda kalau wanita yang saya sukai memberi saran. Namun ketika rasa sayang sudah muncul, saya tergerak dengan terluka juga.

Teman SMA membuat banyak memori di brangkas ingatan saya. Mengisi periode hidup ketika hormon sedang kuat-kuatnya. Perasaan kepada mereka pun jadi kuat. Kenangan kumpul bercanda di halaman sekolah, makan nasi kucing tiap pulskul, mengitari kota ketika malam. Rasanya saya ingin tetap berada di masa itu. Lalai bahwa kami makin dewasa. Tidak pantas lagi bermain-main meskipun sangat ingin. Berkembang dengan mengurusi persoalan krusial dan substansial.

Sudah sering saya menceritakan aksi menjauh beberapa tahun ini. Memberi jarak dari orang-orang tersayang. Mencoba jinakkan amarah dalam diri. Aksi yang buat beberapa orang mungkin terkesan melebih-lebihkan. Tapi mindset saya dulu memang seperti itu, sehingga butuh semacam ‘pertapaan’. Akal saya masih dalam proses membentuk konsep hubungan peaceful. Jika berdekatan dengan orang lain saya takut lepas kendali dan mereka tidak memaafkan.

Saya dulu berkhayal ada cinta yang selalu me-recharge. Kenyataannya manusia selalu memiliki cara membuat kecewa. Tuhan pun mungkin dalam satu waktu, tapi Beliau memutuskan takdir seseorang bukan karena emosi atau perasaan. Tinggal manusianya percaya atau tidak. Saya terlalu berharap kepada manusia. Jika kecewa dengan seseorang, saya memindahkan harapan kepada orang lain, kecewa lagi, pindah lagi. Loncat-loncat saja. Akhirnya sulit membuat constant relationship.

Saya tidak mau terluka lagi karena cinta dan kasih sayang.

Ketika mereka yang saya sayangi—keluarga, sahabat, atau kekasih (kalau ada) membuat kecewa, teman adalah pelarian terdekat. Saat sekolah dan kuliah setiap hari bertemu banyak teman. Bergaul dengan mereka saya  feeling recharged. Sekarang ketika hidup mulai goes wrong, saya ingin kembali ke masa itu. Tidak perlu lulus tidak perlu bekerja. But it isn’t real. Kehidupan paling nyata ada di keluarga. Mereka menunggu saya mencapai tahap sebagaimana lelaki dewasa. Mungkin jodoh saya juga.

Makin sedikit teman ngobrol, saya sadar apa yang berarti.

Keluarga tetap paling berarti. Tanpa mereka mungkin saya sudah mati. Bagaimana saya memandang keluarga mungkin sangat berbeda dengan banyak orang. Saya tidak bisa mengabaikan kenangan-kenangan menyakitkan ketika merasa tidak diinginkan. Masa-masa penuh drama dan emosi. Tidak banyak orang-orang di sekitar saya merasakannya. Bahkan teman-teman SMA yang sudah seperti keluarga. Kami sekarang hanya berusaha menjaga hubungan baik.

Masa di mana teman jadi kebahagiaan telah lewat. Perpisahan itu coba saya terima. Saya perlu belajar independen. Mengurus masalah sendiri. Mencoba sesedikit mungkin andalkan bantuan orang lain. Teman yang saya anggap saudara sudah jauh-jauh semua. Dan di tengah keluarga saya merasa tidak memilikinya. Sejak remaja saya mulai kesepian di tengah keluarga, karena mendapat posisi yang tidak menguntungkan. Namun keluarga memiliki ikatan abadi dengan saya.

Semua orang pada akhirnya akan kembali kepada keluarganya. Teman hanya mampu sebatas berkirim kabar. Sahabat kalau tidak bisa sering ketemu ya hanya bisa memberi doa. Keluarga lah yang punya peluang terbesar untuk menolong, atau kita tolong. Mereka yang membersamai kita sedari kecil. Tahu sisi buruk dan sisi baik kita. Cinta ada pada keluarga. Kenyataan itu tidak berubah meskipun diganggu jutaan kekecewaan.


Sekretariat SPMB UNS, 11 Mei 2019

Ilustrasi: https://www.thejournal.ie/readme/declutter-your-friends-trying-to-keep-old-friendships-alive-ties-you-to-the-past-3779736-Jan2018/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar