Latest

Diberdayakan oleh Blogger.

Si Introvert yang Mudah Jatuh Cinta

Senin, 02 Maret 2020
Foto: pexels.com

...
Sholikin, mengaku bahwa dirinya adalah seorang introvert murni. Buku-buku psikologi yang sudah dibaca menunjukkan bahwa karakter kepribadian introvert cocok dengan dirinya. Pun teori dari tokoh-tokoh psikologi seperti Carl Jung, mengantarkan pada kesadaran bahwa dirinya adalah seorang introvert.

Dalam aktivitas keseharian, selalu, merasa harus meluangkan waktu untuk mengambil jeda. Untuk menyepi. Mencari tempat sunyi. Menyendiri. Mengecas dirinya. Tidur. Kadang rebahan sambil memegang smartphone. Atau memasang headset, untuk mendengarkan lagu yang sedang mewakili perasaannya saat itu. Lagunya hanya satu, atau beberapa saja, tapi diulang-ulang, sampai meresap ke dalam hatinya.

Betapa seorang introvert mudah lelah jika melakukan kegiatan yang berkaitan dengan banyak orang.

Sholikin tidak bisa dalam seharian full melakukan kegiatan di luar tanpa beristirahat. Wajib hukumnya untuk pulang dulu, sebelum melakukan kegiatan lainnya. Kalau pun dipaksakan, pasti setelah selesai akan merasakan kelelahan yang luar biasa. Besoknya, kalau libur, langsung hibernasi. Tidur seharian, full, bangun kalau sembahyang saja atau kalau perut minta jatahnya.

Kalau sedang menginginkan sesuatu, lebih suka untuk melakukannya sendiri. Seperti belanja sepatu, atau baju. Jarang sekali mengajak orang lain, bahkan kepada teman dekatnya sekalipun.

Belanja sendiri membuatnya lebih nyaman. Kalau sedang memilih, tidak ada orang yang mengganggu pikirannya dalam mengambil keputusan, mau jadi membeli atau mau memilih baju yang mana. Kalau sedang mempertimbangkan, butuh ketenangan dan waktu yang lama, sehingga tidak ingin merasa diburu-buru oleh teman yang menemaninya. 

Terkadang kalau sedang suntuk dalam pekerjaan. Dia mengambil cuti, jalan-jalan sendiri memutari kota dengan scoopy-nya. Kadang pernah, tiba-tiba sudah sampai saja di Malioboro. Memarkirkan sepeda motornya di Stasiun Balapan, lalu beli tiket prameks, lalu ke Jogja Pulang Pergi.

Bukan ingin mengutuk keramaian, hanya butuh ruang untuk menikmati kesunyian.

Kesunyian adalah senjata bagi introvert untuk tetap menjaga pikirannya tidak mudah lelah. Introvert tidak pernah ingin dimengerti, bahkan seringkali mereka yang lebih pengertian kepada penduduk dunia yang mayoritas adalah ekstrovert. Dunia yang sering menganggap aneh para introvert.

Seringkali introvert tertawa ngakak dalam batinnya. Melihat orang-orang ekstrovert di sekitarnya ‘kebanyakan tingkah’. Mendengarkan orang-orang banyak bicara yang tidak penting.

Ngakaknya hanya dalam hati, khas introvert yang banyak diam ketimbang bicara. Sehingga jarang orang introvert yang menyakiti orang lain lewat kata-kata yang diucapkannya.

Walaupun belakangan introvert justru tidak dianggap aneh lagi, tapi dianggap sebagai orang yang memiliki kepribadian unik. Terlebih ketika dunia menyadari bahwa banyak tokoh dunia yang terkenal ternyata adalah seorang introvert. Seperti Bill Gates, Barrack Obawa, dan Mark Zukerberg.

Dibalik pendiamnya, introvert menyimpan potensi-potensi yang membuatnya menjadi pribadi yang penting. Seperti kemandirian, kemampuan analitis, pandai mendengarkan, rasa empati yang tinggi, sikapnya yang tenang, dan tentu saja kesetiaan. Semua potensi yang bisa dimaksimalkan oleh para introvert dalam mengarungi kehidupan.

Termasuk Sholikin, sudah menyadari itu semua. Potensi-potensi tersebut. Dalam dirinya. Tetapi bukan menjadi alasan kenapa sampai hari ini Sholikin belum terlihat tanda-tandanya keinginan menyudahi kelajangan.

Sudah hampir 6 tahun lulus dari kuliah psikologi, dan kini memiliki kehidupan yang stabil. Memiliki tempat tinggal dan kendaraan sendiri. Membuat orang-orang bertanya-tanya apa gerangan yang menjadi halangan untuk dirinya menikah.

Sebagai seorang teman, saya tahu Sholikin bukan orang yang tidak pernah jatuh hati. Atau memiliki kelainan ‘itu’. Sholikin sama seperti anak muda lainnya, merasakan cinta. Juga pacaran.

Dan kalau boleh jujur sebenarnya Sholikin adalah orang yang mudah merasakan cinta. Mudah sekali, sederhana perasaan itu. 

Gampang melihat dengan rasa kepada seorang perempuan. Baru melihat sekali, ada yang serrr dalam hatinya. Lalu dibungkus dalam pikirannya. Dibawa pulang ke rumah. Dirasa-rasakan. Di-stalking. Dibolak-balik. Dielus-eluskan ke dadanya. Dilogika. Sampai merasa biasa saja.

Seperti itu sering sekali dilakukan oleh Sholikin.

Bukan sesuatu yang salah, bagi Sholikin, mudah dijatuhi rasa cinta. Kepada siapa saja. Cinta adalah anugrah yang nikmat yang Tuhan berikan kepada manusia. Cinta adalah energi yang mampu menghangatkan dadanya.

Yang menarik, di samping mudahnya Sholikin merasakan cinta. Dia adalah sosok yang sangat setia, khas orang introvert. Tidak ingin menyakiti pasangannya, bahkan lebih memilih dirinya yang merasakan sakit hati ketimbang harus melihat orang yang disayanginya menderita. Bahkan kalau bisa jangan sampai pasangannya tahu dirinya sedang terluka batinnya.

Beruntungnya, Sholikin memang sholeh. Tidak neko-neko keinginannya. Tingkah lakunya. Coba, andai Sholikin nakal sedikit, bisa saja menjadi playboy. Lain hari lain yang dicari.

Prinsipnya, satu perempuan adalah komitmen yang tidak bisa dibantah. Titik bulat besar berwarna hitam. Dijaganya erat-erat. Dipikulnya kuat-kuat. Sehingga pernah, Tuhan yang mencintainya, dan seharusnya lebih dicintainya, menyentil Sholikin. Ketika seperti sedang memakai kaca mata kuda, matanya tidak menghiraukan kanan-kiri. Berkurang kewaspadaannya.

Sholikin tersentil, jatuh, dan kesakitan. Sampai kembali kepada kesadaran. Dan justru mensyukurinya. Dengan sangat-sangat bersyukur.

Dan mengambil kesimpulan baru dalam hidupnya. Baginya, perasaan ingin memiliki ketika seseorang jatuh cinta adalah keadaan yang justru merusak hakikat cinta itu sendiri.

Cinta tidak seharusnya beralih menjadi perasaan memiliki. Cinta akan menumbuhkan keinginan agar subyek cintanya mendapatkan kebahagiaan. 

Mengetahui tanpa melihat, mendengar tanpa terdengar, merasa tanpa bertemu, dan mencintai tanpa harus dikenal. Ilmu cinta yang pernah Sholikin dapatkan dari cerita cinta Umbu Landu Paringi, mantan presiden Malioboro itu.

Dan jodoh adalah dunia lain yang jauh lebih luas bagi Sholikin untuk menjabarkannya. Seperti pikirannya yang sangat luas, bagaikan dunia sendiri yang berbeda dari dunia nyata, ketika Sholikin menyelami ke dalam pikirannya.

Pasangan, orang yang dinikahi, kehidupan berkeluarga, adalah tingkatan yang lebih tinggi dari sekedar rasa cinta.

Sholikin percaya bahwa alarm untuk berkeluarga akan berbunyi ketika semua itu siap pada waktunya. Ketika seluruh tautan, sebab akibat, sunatullah, saling berinteraksi untuk menjodohkannya.

Tingkatan dirinya ketika sudah selesai dengan keinginan-keinginan dunia yang berubah menjadi remeh. Dan menjejak kepada keinginan untuk membahagiakan orang lain. Dari yang hanya mengasihi menjadi lebih intim: menyayangi. Yang tidak lain, jodohnya, anak-anaknya, keluarganya, lingkungannya. Dan lingkaran-lingkaran yang lebih besar di luar dirinya. 

Semuanya setelah Sholikin selesai. Dalam artian, sudah paham siapa dirinya, untuk apa tujuannya, apa tugasnya yang diamanahkan Tuhan. Sehingga presisi apa yang akan dilakukannya, dengan identitas seperti apa untuk menjalani tugas itu dan seberapa luas lingkar pengaruh itu.

Saya percaya Sholikin akan menikah. Sebentar lagi. Bukan karena diburu-buru orang-orang di sekitarnya. Atau tertekan oleh usia, teman dan keluarganya. Tetapi di waktu yang paling presisi. Dalam kedaulatan keinginannya yang juga seperti kehendakNya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar